Selasa, 11 September 2012

Moonlight Shadow - 1


Judul: Moonlight Shadow
Cast: Han Yuna / Takamina Rieko (u), Jung Daehyun, Kim Himchan, Han Sunhwa.
Author: Occie Candra
Other Cast: JYJ Kim Jaejoong, BAP member.
Genre: Love, Action, Gangster life, 17+



Moonlight Shadow – Part 1


Foreword:
We'll be together, but only under the moonlight shadow.



BUUUGHH!! Suara keras kepalan tangan mengenai tulang rahang terngiang diseluruh gang yang gelap malam itu. Suara nafas yang  berat mencari udara muncul setelah suara berdebam dari tubuh berdarah-darah itu jatuh di aspal yang dingin. Cowok yang masih berusaha mengatur nafasnya itu, merentangkan tangannya, meluruskan tangannya yang serasa sakit sehabis dipakai melayangkan beberapa pukulan. Dia mengulum bibirnya sendiri, dan menatap tajam pada orang-orang yang kesakitan tidak berdaya didepannya. Matanya seolah-olah men-scan semua wajah-wajah orang itu.

"Siapa mereka? Aku tidak pernah melihat mereka?", tanya cowok itu dengan suaranya yang kelewat bening dan bagus untuk ukuran preman seperti dia.

"Aku tidak tahu, hyung. Mereka tadi menyergap kami tiba-tiba", kata seorang cowok berambut coklat. Cowok pertama yang pertama menatapnya tajam, si cowok rambut coklat langsung menunduk karena takut.
"Kalian tidak tahu? dan kalian diserang begitu saja? Haah..", desah cowok pertama.
"Maafkan kami, hyung.. Kami seharusnya bisa menangani semuanya.."
"Cukup! Aku tidak ingin mendengar alasan kalian. Yang jelas anggota kita diserang, dan mereka cukup hebat. Yongjae, cari tahu siapa mereka. Sebagian dari kalian, singkirkan orang-orang ini jauh-jauh, dan sisanya, kembali ke markas", perintah si cowok pertama.
"Nee!!", jawab mereka serempak.
"Ah..Untuk kau, Yongjae, aku rasa, mereka bukan orang daerah kita. Kurasa mereka tidak akan sebodoh itu menyerang daerah kekuasaan kita. Hati-hati mencari informasinya", kata cowok pertama yang kelihatan kepala gank itu.
"Nee, Daehyun hyung", jawab cowok berambut pirang bernama Yongjae itu.

Ckckck.. mencari masalah dengan Jung Daehyun rupanya mereka. Aku akan temukan kalian, dan aku habisi kalian.
Sebuah seringai menyeramkan tergambar di wajah Daehyun yang tampan itu. Dia kemudian berjalan pergi diikuti beberapa pengikutnya yang kembali ke markas dengannya. Dia menatap langit sesaat, "Hmm.. Malam ini bulan sabit", gumamnya.

------------------------------------------------------------------

Haahhh…. Aku mengibas-ngibaskan tangan didepan wajah, sambil tangan satunya mengelap keringat yang menetes dari dahi.. “Astaga…”, keluhku. Panasnyaaa!!! Ini benar-benar matahari luar biasa banget yah, ga ada capeknya bersinar dengan riang dari tadi. Ga sadar apa cewek manis yang sedang jalan ini rasanya sudah mau pingsan. Hiirr... Udah kebayang ajah itu kamar adem dengan kipas angin, berbaring di lantai kayu yang dingin, dan orange juice dingin...

Aahh.. Kalau hari ini aku tidak ada kelas, tidak bakal deh aku ke kampus, huaah... Apartementku tersayang masih jauh... huweee... My poor feet... Omo, Han Yuna, bertahanlah.. Orange juice menunggu di apartement...  T__T

------------------------------------------------------------------

“Daammnn!!!”, aku membanting jas ke sofa di kamarku dan menendang kursi sekeras-kerasnya. Aku tidak peduli rasa sakit di ujung sepatu pantovelku yang hitam mengkilat. Aku sedikit terengah-engah sambil mengatur nafas, badanku serasa panas, rasanya uap mengepul dari kedua telingaku, wajahku sangat panas karena marah.

“Damn! Damn! Damn!!”, teriakku kencang sambil terus menendang-nendang kursi.

Aku mendengar suara pintu dibuka dan ditutup kembali dengan cepat dibelakangku. “Tuan Muda… Tolong..tolong tahan emosi anda…”, kata penasehatku, dengan nada memohon.

Aku berbalik dan memandangnya tajam, dia langsung mengalihkan pandangan. Aku melihat dia terus menunduk.

“Tuan muda… kalau anda tidak bisa mengendalikan emosi, Tuan besar akan makin memandang tidak baik kepada anda….”, katanya, suaranya agak gentar.

“Hah! Apa kau bilang?? APA KAU BILANG??!!”, kataku, emosi sambil meraih kerah kemeja penasehatku, dia hanya gemetar memandangku.
“Ampun, Tuan..ampun… saya…saya hanya…”
“Hanya apa??”, kataku, masih terus memandangnya tajam.
“Tuan muda…tolong..lepaskan tangan anda…”, pintanya, memelas.
“Haahhh”…aku mendesah panjang, aku lepaskan tanganku, dia sampai sempoyongan terlempar sedikit ke belakang. Aku memandangnya tajam.

“Kau tahu kan, apa yang sudah aku lakukan?? Kau tahu kan semua usahaku? Kau tahu kan semua jerih payahku selama ini???!!!”, kataku, membentaknya.
Dia hanya menunduk sambil terus gemetar, "Iya, Tuan muda….”
“Heh, tapi orang tua itu malah berencana memberikan perusahaan ini kepada orang sialan itu!!”, kataku, emosi.
“Tuan.. Tolong jangan panggil Hyung anda orang sialan…”, katanya.
“Ck! Diam kau!! Kau tahu sendiri kan?? Orang itu kerjaannya hanya minum-minum, main perempuan, tidak pernah berusaha serius bekerja!! Dia itu hanya benalu kurang ajar yang sangat ingin aku singkirkan!! Mentang-mentang Ayah sangat menyayanginya, dia bertingkah seenak jidatnya!! haahh!! Benar-benar ingin sekali aku membunuhnya!!!”, kataku, penuh emosi. Aku sudah tidak peduli lagi.

“Hah! Selama ini aku yang serius bekerja, berusaha sebaik mungkin agar dilihat oleh Ayah, aku berusaha mati2an melakukan hal yang susah dan terbukti aku mampu, tapi kenapa dia ingin memberikan perusahaan ini kepada orang bernama Jaejoong sialan itu!!!”, teriakku, meluapkan semua emosi.

Rasanya wajahku sudah terbakar, ingin sekali aku mengambil pistol dan menembak.. ani! Ingin sekali aku mengambil samurai di dinding kamarku ini dan membunuh orang bernama Jaejoong itu dengan sadis.. Damn…!!

Memangnya apa yang dilihat Ayah dari orang itu?? Hah?? Dia hanya laki-laki sok yang hobi menghabiskan uang, minum-minum, main perempuan.. ugh. Setiap hari aku yang bekerja mengurus perusahaan! Sial.. Apa Ayah tidak tahu bagaimana aku berusaha selama ini?? Hanya karena dia anak-anak laki-laki pertama?? Stop that bullshit!!

Tiba-tiba pintu terbuka, aku melihat dengan agak kaget ke arah pintu, dan sesosok laki-laki tinggi yang tampan dan memakai jas rapi, masuk dengan senyum menyunggingnya yang paling aku benci didunia ini.

“Ckckck.. sepertinya Channie sedang marah-marah…”, katanya, dengan nada santai, sambil mendekap tangannya didada.
“Hei, siapa yang kau panggil Channie??!”, kataku, emosi.
Dia tertawa kecil, “Sepertinya adik kecilku sudah marah sampai ubun-ubun….”, katanya, sambil berjalan mendekatiku.
Aku melihatnya tajam, dan dia melihatku tajam dengan wajahnya yang paling aku benci didunia ini.

“Paling tidak kau harus memanggilku Hyung. Dimana sopan santunmu?”, suaranya terdengar mengancam.
Tapi aku tidak takut. Aku membalasnya dingin, “Kau bukan Hyungku”.

“aah..ahahahah..”, dia tertawa kecil memperlihatkan deretan gigi putihnya. “Paling tidak ayah dan ibu kita sama, dan kita sama-sama tampan, Channie sayang…”, katanya, sambil membelai wajahku.

Bbbrr… Reaksinya membuatku otomatis mundur satu langkah dengan sekujur tubuh merinding saking ngerinya. Bisanya dia tersenyum seperti itu… Mengerikan!
“Jae…Jaejoong Hyung, ada urusan apa datang kemari??”, tanyaku.

“Ehemm”, dia berdeham, tangannya kemudian masuk ke dalam jas, dan mengeluarkan sebuah amplop coklat besar, dan menjatuhkannya di meja disamping kami.

Dia memandangku tajam, “Ambil pekerjaan itu, dan buktikan pada Ayah kalau kau bisa membuat dia bangga”, katanya, tajam.

Aku membelalakkan mataku, bilang apa dia tadi??!! Seketika tanganku mengepal dan siap melayang ke arah wajahnya, tapi tangannya dengan cepat menangkis dan mencengkeram pergelangan tanganku. Dia memandangku tajam,

“Kau, lakukan pekerjaan ini dengan bagus, dan ambil semua warisan perusahaan yang kau inginkan”, katanya, dingin.

“Mwo??! Apa yang barusan kau bilang?? Kau menantangku, Hyung??!!”, aku sudah emosi tingkat dewa dan memakinya tepat didepan wajahnya.

Dia tidak tinggal diam, tangannya yang bebas langsung menarik kerah kemejaku dan memandangku dengan tatapannya yang tajam menakutkan itu.

“Ya, aku menantangmu. Ambil pekerjaan itu dan buktikan kalau kau mampu mengalahkanku”, katanya, lalu melepaskan kerahku dan tanganku, sampai aku agak terdorong kebelakang.

Untuk sesaat kami saling berpandangan. Lalu dia tersenyum dingin, “Aku tunggu hasilnya, dan kau harus berhasil. Ini pekerjaan penting, Channie”, katanya, sambil merapikan jasnya, dan melangkah pergi dari kamarku.

“Cih!! Kurang ajar dia”, kataku, rasanya benar-benar muak dengannya. “Kang hyung, buka amplop itu”, kataku kepada penasehatku, sambil terduduk di sofa empuk dikamarku yang luas dan menghela nafas berat.
“Tuan muda.. Amplop ini tersegel…dengan segel dari Tuan Besar…”, katanya.
“He??”, aku kaget, langsung meraih amplop itu dari tangan penasehatku dan melihat sendiri. Haah.. tersegel tanda lilin merah, bersegel tanda keluarga kami.. Apa2an ini?? Dia mau mengejekku? Atau..

“Haah! HAHAHAHA!! Kim Jaejoong Sialan!!!”, kataku sambil tertawa keras dan menakutkan. Aku memandang amplop coklat itu dengan tatapan nanar dan sebal dan bercampur dengan kegembiraan yang aneh.

“Lagi-lagi dia memberikan pekerjaan padaku?? ckckck… awas kalau nanti malam aku tahu dia minum-minum di club lagi, akan aku seret dia dan kubuang di Han River..”, aku membuka segel dengan sedikit kasar. Kang hyung memandangku dengan tatapan was-was.

Aku merogoh isi amplop itu dan menemukan selembar kertas tebal berwarna putih dan berlabel TS.
“TS? Top Secret??”, gumamku. Diatasnya tertulis "Sakamoto Clan Secret Mission". Misi rahasia klan keluarga besarku?? Aku semakin curiga, aku yakin ini sesuatu yang besar!
Lalu aku mengeluarkan seluruh kertas putih tebal itu dengan buru-buru dan membaca judulnya pelan, “Code : TakaM???”, aku mengangkat alis. Apa ini??

---------------------------------------------------------

"Aaahhh~~~", desahku lega sambil tiduran di lantai kayu apartementku yang dingin. Kipas angin yang menyala membuat udara makin segar. Aku menyeruput orange juice dengan sedotan sambil tiduran. Haah.. Menyenangkan sekali...

Aku tersenyum. Memandang langit-langit putih apartementku yang sederhana itu. Pikiranku terlintas ke kenangan 1 tahun lalu, saat pertama kali aku pergi dari rumah dan memutuskan untuk tinggal sendiri dan meninggalkan semua hal dan rasa sakit yang sudah tidak mampu lagi aku tahan dan tahan. Untung keputusanku tepat, dan eomma-ku yang sudah bercerai dari appa, menyetujui keputusanku dan masih mensupport semua kebutuhanku. Tapi, aku tidak akan terus bergantung pada eomma.. Aku harus benar-benar berusaha sendiri dari sekarang.
Ngomong-ngomong, aku sudah beberapa hari tidak menelepon eomma di Jepang, telpon ah~~

-------------------------------------------------

"Hyung, aku datang", kata cowok berambut pirang didepanku sambil menunduk wajahnya pelan.
"Ah.. kau sudah datang, duduk, duduk... Oiya, Jongup, ambilkan minum, aku yakin disiang hari yang panas ini dia kehausan", kata Daehyun, sambil tersenyum.
"Ah..terimakasih, hyung", katanya, sambil duduk di sofa diseberangku.
Markas kami adalah sebuah rumah biasa, yang orang lihat sama seperti rumah orang-orang yang lain. Dan rumah kami berada di kawasan yang lumayan bagus. Dan rumah ini adalah daerah operasi rahasia kami.
"Apa informasi yang kau dapatkan?", tanyaku.
"Ehem. Orang-orang itu suruhan orang dari sebuah klan besar, Hyung", katanya, lalu terdiam.
"Klan besar? maksudmu? kenapa klan besar mau repot dengan gang kita yang masih kecil ini?", tanyaku, tidak sabar.
"Orang-orang itu suruhan klan besar dari Jepang, hyung", kata Yongjae, dengan tegas.
"Jepang??", tanyaku, makin heran.
"Iya, hyung. aku tidak begitu jelas, tapi yang jelas nama Klan itu adalah Klan Sakamoto. Dan......", dia terdiam.
Aku memandang Yongjae lebih dalam, "dan...."
"Mereka sedang mengemban sebuah misi...", dia sedikit gemetar dan memandangku dengan tatapan agak takut.
"Misi? haish, Yongjae, katakan saja...", kataku, sebal karena benar-benar ingin cepat-cepat tahu.

"A.. Aku mendapatkan kertas ini setelah salah satu dari mereka ketakutan....", dia menyerahkan sebuah amplop rapih dan aku membuka amplop itu segera, mengeluarkan sebuah kertas yang lecek dibeberapa bagian. Dan, mataku terbelalak seketika, mulutku menganga, dan jantungku berdebar hebat.

"Sakamoto Clan Secret Mission"

----- Code : TakaM -----

Aku langsung memasukkan kertas itu lagi, tanpa harus membaca apa isinya. Aku sudah tahu, aku... Damn! Kukira..mereka tidak akan pernah membuka kasus ini lagi! Damn.. Damn..!

Kenangan buruk 13 tahun lalu menyergapku tanpa aku minta. Gambaran kejadian mengerikan.. saat aku masih berusia 6 tahun. Aah!! Aku menutup mata, mencoba menghilangkan kenagan menyakitkan itu.
"Hyung...hyung...", panggil Yongjae, menyadarkanku.
"Ya..Yongjae-ah.."
"Apa yang akan kita lakukan, hyung?? Apa jangan-jangan, orang-orang suruhan itu mengeroyok kita karena tahu kalau... Hyung ada hubungan dengan kejadian 13 tahun lalu..."
"Diam!!", aku membentaknya. Dia kelihatan kaget. Ah... "Maafkan aku, Yongjae.. aku tidak bermaksud membentakmu, hanya saja.. aku kaget, kasus ini sudah ditutup, kenapa mereka mau membukanya lagi, dan mereka bahkan menyerang gangku??", kau coba berfikir.
Beberapa detik kemudian, sebuah ide paling gila memukul kepalaku. Aku terbelalak sambil melihat ke arah Yongjae yang sama-sama terbelalak, ku rasa, kita punya pikiran yang sama.
"Tidak mungkin... hal itu tidak akan pernah mungkin terjadi. Tidak.. impossible", gumamku, sambil terus menggeleng-gelengkan kepala.
"Ani...hyu-hyung... kemungkinan itu bisa saja terjadi.....", katanya, sambil menatapku horor.
"Tapi bagaimana mungkin??" Aku hanya bisa mengulum-ngulum bibirku. Ah... Jangan-jangan, mereka sudah menemukan salah satu dari 4 orang yang ada di rumah itu, pada kejadian 13 tahun lalu????



-to be continued-
terimakasih sudah baca yah chingu~ koment, saran dan kritik sangat diterima~ Terimakasih *bow bow bow*

Beach - Part 1


Main Cast: Bang Yongguk, Han Yuna (author, you), Song Jieun, Choi Junhong [Jello].
Judul: Beach
Nama Author: Occie Candra
Genre: Romantic comedi 17+


Beach - Part 1



Zzrrassssshhh~~~

Suara ombak yang menggulung-gulung bersahut-sahutan terdengar begitu indah sore ini... Aku menghirup udara pantai yang segar dengan perlahan dan menghembuskannya dengan perlahan. Aku duduk di pantai, tersenyum melihat indahnya siluet matahari di garis batas horizontal. Aku mendekap kakiku di dada, memandang ke kejauhan sambil tersenyum. Betapa indah sore ini... 

Tiba-tiba terdengar suara, "Jeonbu geojitmal.. ijeul su itdan mal...". Aku mencari-cari hape didalam tas disebelahku. Foto seorang cowok yang sedang tersenyum dengan ceria memandang kearahku. Aku tersenyum sesaat sebelum mengangkat teleponnya.

"Anyeong, Yonggukie", sapaku.
"Anyeong, Yuna-ah... Nanti kau jadi datangkah?", tanyanya dari seberang, suaranya terdengar agak cemas.

"Nee.. Aku akan datang. Tenang saja", kataku, mantap.
"Jeongmal..jeongmal gomawoyo...", katanya.
Aku tersenyum, "Anii, Yonggukie, aku yang seharusnya berterimakasih padamu..", kataku.
"Haah.. Aku tunggu kau, ya.. Hati-hati dijalan.."
"Nee...", kataku. Dan dia menutup teleponnya.

Dia ini masih khawatir saja... Aku tersenyum kecil, entah kenapa aku masih merasa senang... Ah, sebuah kenangan menyergap ingatanku seketika, dan membuatku kembali memandang laut di kejauhan.. Ingatan lama....


(Flashback)

"Yuna-ah!! Yunaaaaa...", panggil seseorang dari belakang. Aku berpaling ke asal suara.
"Jiyeonnie?? Ada apa??", tanyaku.
"Ahh.. Kau mau kemanaa??? Kita masih ada kelas... ugh", katanya, sambil menyeret tanganku kembali kedalam gedung kampus.
"Aish!!", aku melepaskan tarikan tangannya dengan kasar, "Ada kelas apa..udah selesai kok.. mau balik ah", kataku.
"CK!! Kau! Hari ini bakal ada kuis dadakan tahuuuu.....", kata Jiyeon sampai mulutnya monyong.
"He?? Kuis??", aku kaget.
"Haish.. Aku tahu kau pasti kaget. Sudah, ayo masuk kelas. Bisa parah kalau nama kita ga ada diabsen", katanya.

"Yaa!! Aku belum belajar Jiyeonnie...", kataku, sambil nurut saja ditarik sama dia.
"Sama!! aish..", katanya, sambil setengah berlari menggenggam tanganku. Aku yang mengikuti dibelakangnya juga berlari kecil. Haish.. Aku benar-benar tidak tahu...eh tunggu!!

"Jiyeonnie.. Nanti kelas apa yah??", tanyaku, ragu.
Jiyeon tiba-tiba berhenti, dia memandangku dengan tatapan paling maut yang pernah dia perlihatkan. 

Aku menelan ludah,
"YAA!! HAN YUNAAAAA!!!", dia hanya meneriakkan namaku. Sambil mengatur nafasnya, dia berkata, "Kimia analitis".
JGEER!!!
"Omo!! thats.. thats.... ", aku hanya menganga, "dosennya......"
"Ya! Yuna-ah!! Ayoooo...", aku sadar setelah dipanggil Jiyeon yang sudah beberapa langkah di depanku.

"Aish!! ottokhheeeeeeee....", gumamku sambil berlari kecil dengan panik mengikuti Jiyeon. Dia menghilang di tikungan dan aku mengikutinya. Ahh..ottokhaee.. aku bahkan sama sekali belum belajar, aku malah lupa hari ini ada kelas!! aarrgghh.. damn!! damn...kuis lagi..huwaaa....

Ketika aku membelok di tikungan yang sama dengan Jiyeon...

BRRUUKKK!!!

"Aaaaa... aduhh..aduh....", pantatku dengan sukses mencium lantai dengan kerasnya. Aaahh.. aish!!
"Yaaa!!! Kalau jalan hati-hati!!", teriakku pada orang yang menabrakku.

Aku melihat seorang cowok dengan jaket biru dalam posisi terduduk yang sama denganku. Tapi dia langsung berdiri dengan cepat. Dia memandangku.
Cowok yang tinggi, berbaju tidak begitu rapi, memakai kacamata besar dan berambut pirang... mengulurkan tangan padaku.

"Kwenchana yo??", tanyanya.
"Ne..", jawabku, singkat. Sambil meraih tangannya dan berdiri dengan menahan sakit di pantat. "aaa....", rintihku.

"Aduh, sakit yah? Dimana yang sakit??", dia memandangku dengan tatapan cemas, dan tangannya refleks menyentuh pundakku.

"Yaa!! Apa yang kau lakukan??!", bentakku dengan sebal dan menatapnya tajam. Cowok itu langsung diam dan menyingkirkan tangannya.

"Maaf..", katanya.
Aku memandangnya dengan sebal, "Lain kali kau lihat-lihat yah kalau jalan. Mana aku lagi buru-buru lagi..hiss", kataku, sambil sebal, dan berlalu darinya dengan berlari kecil. haish..menyebalkan!! 

huks... ada kuis... huweeeee.... kepalaku sudah penuh dengan kekalutan.

Aku duduk di bagian tengah, disebelah Jiyeon dengan perasaan waswas. Jiyeon dengan rajin membaca buku. Dan aku, sibuk berdoa agar aku tidak kena tunjuk oleh dosen. haish, aku bahkan lupa hari ini ada kuliah kimia analitis dan... damn..aku bahkan tidak tahu ada kelas...aahhh... payah. pabooo!!

Singkat cerita, si dosen killer sedang berdiri di depan kelas, sambil membuka-buka notesnya. Biasanya dia akan menunjuk mahasiswa, dan kalau tidak bisa, dia akan melempar ke yang bisa. sungguh menyebalkan. Dan, mahasiswa seperti aku ini, mendingan aku ndak kena tunjuk...brrr...

Pertanyaan pertama lewat, pertanyaan kedua lewat... pertanyaan ketiga, keempat, kelima... keenam.. aahh... Aku tersenyum sedikit lega. Aku melirik jam tangan, tinggal 30 menit lagi. Kalau lolos jam, aku bisa terbebas dari penjara 2 jam ini....

"Han Yuna-shi.. Apa jawaban pertanyaan tadi??", and.. FROZEN IMMEDIATELY. Error! Aku menatap ngeri ke whiteboard didepan kelas yang penuh dengan angka, rumus...omoo...

"Han Yuna-shi? Apa kau tahu penyelesaiannya?", tanya dosen itu lagi.
"A.. aa.. Sa..sa.. saya...", tiba-tiba sebuah kertas terlempar ke tanganku. Aku kaget sambil melihat ke arah lemparan kertas itu, dan..

Cowok tadi....kah?? Dia hanya melihatku dan memberi isyarat ke arah kertas itu. Aku langsung berpaling ke kertas tadi dan membukanya... dan... OMO!!! Aku langsung mendongak melihat papan dan...

"Han Yuna-shi? Kau mau menyelesaikan pertanyaan ini atau saya harus melempar pertanyaan ini pada mahasiswa lain?", tanya dosen lagi.

Aku memandang cowok itu, dan dia mengangguk kecil, dan...

"Nee...", kataku. Aku segera membuka kertas itu, menaruhnya di buku catatan seolah itu pekerjaanku dan aku maju menuliskan jawaban test itu...

Setelah kelas selesai...
"Ya..Yuna-ah, kau tahu darimana rumus tadi, itu susah looohhh...", tanya Jiyeon, sambil memandangku.
"Ehe.. Sebenarnya bukan aku, tapi cowok disebelahku", kataku. Lalu aku menoleh ke sebelah..dan.. eh? Ga ada??

"Siapa?", tanya Jiyeon.
"Entah.. Aku ga tahu.. Tadi dia duduk disebelah"
"Oh.. Cowok berkacamata itu?".

"Ah!! Iyaa.. kau tahu?? aish, aku malah belum bilang terimakasih...dan minta maaf...", ingat kejadian membentaknya tadi. Padahal dia udah bantu aku berdiri.. hmmm

"Kayaknya tadi dia barusan keluar.."
"Ah! Aku harus bilang terimakasih.. Jiyeonnie, aku duluan yah..", kataku.
"Hmm..ya sudah sana.. hati-hati..", katanya, sambil tersenyum.
"Neeee..", jawabku, dan aku berlalu keluar kelas.

Aku celingukan mencari cowok berjaket biru, bercelana jeans hitam dan berambut pirang dengan kacamata..tinggi.. AH!! Aku melihatnya berjalan ke arah kanan gedung. Kanan?? ah.. Perpustakaan!! Aku mengikutinya dengan sedikit berlari karena dia berjalan dengan agak cepat.. Ahh..bisa ga sieh dia jalan pelan dikit.. Aku melihat punggungnya sudah agak dekat..dan ketika membuka mulut...

"Ah!!", aku menepok jidat. Aku kan ga tahu siapa namanyaaa... Haish.... Aduh.. Sial. Mau ga mau harus ngikutin dia ampe dia berhenti, dan..
Iyakan.., dia masuk perpus, anak rajin. Sebelum masuk erpus, aku harus udah ketemu!! Habis, masuk perpus pake acara ngeluarin kartu anggota segala... ckckck..

Tapi yang namanya sial dan sial.. Dia keburu masuk duluan dan.. aish! Sampai depan perpus. Hah.. Aku celingukan dia udah ngilang entah kemana.. hah... Mau ga mau harus masuk. Aku menggeledah tas dan..akhirnya menemukan juga kartu perpus. Setelah cek dan cek, aku langsung masuk dan mencari-cari orang itu..
Jaket biru...celana jeans item.. jaket biru, celana jeans item.. jaket biru, kacamata... Ah!! Aku menemukannya!!

Aku berlari kecil mendekati dia yang sedang mencari-cari buku..
"Anyeong..", sapaku, pelan.
"Ah..Anyeong..", sapanya, dengan suara beratnya yang seksi, sambil memandangku.
"Uhm.. Terimakasih tadi yah sudah membantuku", kataku, sambil tersenyum. Dia membalas senyum, dan.... Entah kenapa, senyumnya begitu manis..dan, wajahnya begitu tampan....

"Ada apa? Kenapa melihatku begitu?", tanyanya.
"Ah.. anii.. hanya saja... hm! Terimakasih", kataku. 

"Sama-sama.. Kelihatannya tadi kau benar-benar kaget sekali, jadi... lagipula aku tadi juga sedang bisa mengerjakan", dia tersenyum lagi. aih..senyumnyaa... ganteng... Aku tersenyum kecil sendiri.
"Sedang apa kau disini?", tanyaku, spontan.

Dia memandangku, "Mencari buku tentu saja", katanya.
"Ah. Iya yah..", cih! Keceplosan gara2 senyumnya..ah..sial.
"Kau sedang sibuk?", tanyanya, beberapa saat kemudian.
"Eh? Hmm.. Ga..", jawabku.
"Bisa minta tolong kah??", katanya.
"Hmm.. Boleh"

Dia kemudian mengambil sebuah catatan kecil dari sakunya, "Ini daftar buku yang ingin aku cari. Bisa tolong bantu mencari??", tanyanya.

Aku mengambil kertas itu dari tangannya, dan... "Huwa! Banyak sekali!!", kataku, melihat rentetan nomor seri buku di kertas itu.

"Ahh.. Aku harus mempelajari semuanya, dan ga punya banyak waktu, jadi aku harus mempelajarinya secepatnya", katanya.

"Ah.. Arra...Aku akan bantu", kataku, sambil tersenyum, dan mulai mencari buku di list itu.

Daaannn.... Aaaahhh!!! Capeeeeekk.... Aku memijat pundakku sebentar sambil menenteng beberapa buku di tangan.. ah.capek. huh!! Kalau aku tadi ga terpesona sama senyum orang itu, aku mah ga bakal bantu2 dia.. Mana dia udah menyelamatkanku lagi.... haish..

Tiba-tiba, buku ditanganku diraih dan.. Aku melihat cowok itu tersenyum, "Ah..pasti berat yah..miane..", katanya, sambil menata buku ditangannya.

"Ah.. anii..hanya.."
"Gomawoyo..sudah bantu"
"Ah.. kau tadi sudah bantu aku banget. ndak masalah...", kataku.
"Yuks, istirahat dulu", katanya, lalu dia berjalan ke sebuah bangku didalam perpus dan..
"Uwaa...", aku agak terpesona dengan pemandangan di luar jendela....
Sebuah taman bunga sakura dengan lapangan hijau yang indah.. uwaah...
"Darimana kau tahu tempat ini??", tanyaku, takjub.
"Aku selalu ke perpus dan aku selalu duduk disini. Indah kan??", tanyanya. "Hm..apa kau tidak pernah tahu ada taman bunga sakura?", tanyanya.

Aku memandangnya, "Anii..aku tahu, tapi aku ga tahu kalau dari sini juga kelihatan..wuah, bagus....", kataku, takjub sambil memandang keluar.
"Kau suka??", tanyanya.
"Nee...", sambil memandangnya. Dan... ketika dia tersenyum, diterpa oleh sinar matahari sore yang menembus kaca, rambut pirangnya yang berkilauan, matanya yang indah di balik kacamata, kulitnya yang bersih tertimpa matahari, bibirnya yang merah.... "Yeppudaa...", gumamku.

"Ne?", tanyanya.
Aku tersenyum. "Anii.. Lanjutkan saja baca bukunya...". Dan dia menekuni buku didepannya..
Entah ada apa denganku. tapi, aku tidak bisa melepaskan pandangan dari wajah didepanku ini... sungguh..
"Jangan melihatiku seperti itu, Yuna-shi", katanya.
"Eh?? Kau...kau tahu namaku?", tanyaku, kaget.
"Loh? Memang tahu...Kita kan satu kelas kimia, fisika dan matematika... tunggu! Jangan2..."
"AH!!", aku menunduk malu, memandang keluar jendela..... aish!! Keceplosan!! Aku bahkan ga tahu namanyaa..haish!
"Kau.. ga tahu namaku??", tanyanya, sambil senyum-senyum.
Aku memandangnya ragu...
"AH.. uhmm...", aku hampir ga bisa berkata-kata saking malunya.
Dia tertawa kecil, sambil memandangku. "Ya.. Aduh..jangan ketawa dunk.. aish, aku kan ga bisa hafal nama seluruh kelas...", ngeles, makin malu... *getok meja*
"Ah..masa?? Kelas kita kan sedikit anak-anaknya... Kau sieh selalu main dengan Jiyeonnie, ah..ani, kau selalu pulang cepat2 sieh dari kelas. Selalu datang terlambat, selalu ngantuk, dan selalu suka titip absen", katanya, dengan nada jahil.
"Ya!! Ahh... Mau gimana lagi.. Aku juga malas lama2 di kelas, rasanya pengen langsung pulang...ugh", kataku, skak mat.
Dia tersenyum, "Dasar... Kenapa kau selalu begitu?", tanyanya.
"Ck.. emang kau perlu tahu.. ugh...", mendadak sebal gue. "Ya sudah, aku pulang deh..", kataku, sambil beranjak.
"Hati-hati...", katanya, sambil tersenyum senang dengang nada jahil.

UGH!! "Menyebalkan..baru kenal kau sudah mengejekku", kataku, ga tahan juga.
"Kau juga, malah ga tahu namaku. Mana bilang yeppuda lagi...kikiki", tawanya.
"YA!! Mengejekku lagi awas kau!!", kataku, sebal dan malu. aish, menyebalkan banget sieh.. >,<
"Memangnya mau kau apakan??", katanya, sambil tersenyum senang dan....wajahnya, benar-benar tampan....Setiap lekuk wajahnya... Aku sampai terdiam.
"Aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan", kataku.
Dia menyungingkan senyum, "Contohnya??", katanya.
hah!! sial...! "Suka-sukaku, maaf yah", kataku, langsung berlalu dari sana.

Aku keluar perpus dengan sebal. Hah!! Astagaaa. nyebelin banget sieh itu orang.. ugh... brrr.. Gara2 dia ganteng ajah, gue jadi gaje begini.. Pake acara aku keceplosan ga kenal ama dia. Pake acara di ejekin lagi!! hhiirrr.. ga mau ah deket2 dia.. malu!! Tapi..dia ganteng banget.. ah!! Paboo Yuna!! *ketok kepala*

Ketika sampai di dekat gerbang keluar kampus, aku mendengar sebuah suara memanggilku.
"Yunaaaa.. Yuna-shiiii!!!", panggil seseorang.

Aku menengok. Dan.. Akh!! Cowok pirang itu lagi... aisshh!! Pura2 ga kenal ah!! Aku mempercepat langkahku.. Dan aku terus mendengar dia memanggilku, dan aku makin mempercepat langkahku... dan..
Grep!! Pundakku di tepuk olehnya. Aku langsung kaget dan mau ga mau melihatnya.
"Nee?? ada apa laagi??", aku mau ga mau melihat kewajahnya, dengan malu..aish...
"Dompetmu ketinggalan di meja perpus tadi", katanya, sambil menyodorkan dompet berwarna pink bergambar teddy bear.
Aku langsung mengambilnya dengan agak kasar dan sebal, sambil berkata, "Te..terimakasih....."
"Yongguk-shii", jawabnya.
"Eh?", tanyaku, memandangnya.
"Bang Yongguk", katanya, sambil tersenyum manis.
Aku mau tak mau tersenyum melihat dia memamerkan senyumnya yang luar biasa itu, "Gomawoyo, Yongguk-shii".


-to be continued-
Makasih bagi yang sudah baca… Comment, saran, kritik, sangat ditunggu yah teman2 semua.. Makasih.. *bow bow*


What Is Love - Part 1


What Is Love??




Cast       : Shin Hagi (U), Jung Daehyun, Bang Yongguk, Han Sunhwa
Genre    : Melodrama
Author  : Occie Candra @JE2D4E


Part 1


- Nobody’s POV-


Malam musim gugur yang dingin mulai datang di bulan September ini. Orang-orang di Korea sudah mulai memakai baju hangat panjang dan scarf. Apalagi suasana malam itu cukup dingin untuk ukuran musim gugur.

Dan sudah pasti banyak orang yang menghangatkan diri mereka sambil bersosialisasi dengan orang-orang di warung soju. Tak terkecuali seorang cewek cantik berambut hitam dengan baju panjang berwarna pink dan scarf putih yang tersender lemah di pundaknya.  Bedanya, dia tidak minum bersama teman-temannya, tapi minum seorang diri. Rambutnya yang hitam panjang menutupi wajahnya yang tertelungkup di meja dengan beberapa botul soju dimejanya. Cewek itu kelihatan hanya diam, kelihatannya sudah mabuk dan tertidur, tapi tiba-tiba..

Dia mengangkat wajah sambil berteriak, “Ahjummmaaaa!! Soju joseeyooooo….”, teriaknya dengan suara orang mabuk yang sudah serak. Cewek itu mengucek wajahnya yang sudah mabuk dan rambutnya yang berantakan, lalu duduk ala anak baik menunggu sojunya datang.

Ketika ahjumma penjaga warung makan itu datang membawa sebotol soju lagi, tiba-tiba seorang cowok berjalan agak limbung dan menabrak ahjumma. Walhasil, botul soju di atas nampan itu langsung terjatuh di meja didepan cewek itu dan seketika isinya tumpah semua.

Cewek itu langsung menganga, dan melotot kearah cowok tersangka yang menabrak ahjumma itu, lebih tepatnya, menabrak botol soju-nya.

 “Hey! Kau! Beraninya membuang sebotol sojuku!!”, teriaknya dengan suara parau.

Cowok itu hanya memandangi cewek itu dengan tatapan annoying dan memandang cewek itu dari atas sampai bawah, kembali keatas lagi, sampai cewek itu salting sendiri.

“Hey! Apa yang kau lihat?!”, bentak cewek itu.

“Ck! Ahjumma.. beri kami berbotol-botol soju lagi!!”, teriak cowok itu dengan suara parau dan ternyata dia juga sudah agak mabuk.

“Hey, cewek, hanya sebuah botol soju kau sampai berteriak padaku, ayo duduk aku traktir…”, kata cowok itu.

Cewek itu masih memandang sebal pada cowok itu, “Tidak, terimakasih, aku bisa beli sendiri!”, cewek itu berkata ketus.

“Ck! Aku tahu kau ingin, sudah, duduk!”, kata cowok itu sambil menaruh tangannya dipundak cewek itu dan memaksa cewek itu duduk.

Si cewek yang sudah tidak begitu bertenaga akhirnya hanya duduk walau masih sambil melotot dengan tajamnya.

Cowok itu memandangi cewek itu menunggu sojunya datang, dan akhirnya tersenyum, “Ckckck..ada cewek cantik begini kenapa galak banget, sieh??”, tanya cowok itu sambil melayangkan senyum mautnya.

Cewek itu masih saja melotot memandangi cowok menyebalkan itu, “Kau merusak malamku saja!”, bentak cewek itu, sambil memandang tajam kearah cowok itu.

“Ssshh..anggap saja ini permintaan maafku, ayo, aku tuangkan minumanmu”, katanya, sambil meraih gelas kecil si cewek, menuangkan soju, dan akhirnya dia menuangkan soju di gelasnya sendiri.

Si cewek masih tidak bergeming, dia benar-benar sebal. Dia hanya ingin waktu sendirian tetapi cowok itu muncul, menumpahkan sojunya, dan sekarang malahan dia…

“Hey… Aku sudah mau mentraktirmu, mengganti sebotol soju mu yang tumpah dan aku bahkan menuangkan soju ke gelasmu.. Dimana attitudemu heh??”, kata cowok itu, sinis.

Akhirnya cewek itu mengambil gelas kecil itu dan meminumnya sekali tenggak, dia meletakkan gelas di meja dengan keras dan kasar. Cewek itu akhirnya mengambil botol soju dan menuangkannya di gelasnya sendiri dan gelas cowok itu.

“Kita 0-0”, kata cewek itu, sambil menenggak gelasnya sekali tenggak.

Cowok itu hanya menyunggingkan senyum dan menenggak minuman didepannya. Dia memandang cewek itu, “Siapa namamu??”, tanyanya, sambil tersenyum.

Cewek itu hanya berdecak pelan, “Bukan urusanmu, jangan tanya-tanya soal aku..”, katanya, sambil menuang soju lagi, tapi sebelum gelasnya penuh botolnya sudah diraih cowok itu.

“Jawab, atau aku ambil semua sojumu”, kata cowok itu.

“What?? Oh my god… Itu bukan urusanmu!”, cewek itu marah sambil meraih soju itu dari tangan cowok itu. Tapi tangan cowok itu menjauh sampai cewek itu tidak bisa menjangkaunya.

Cewek itu melotot marah, “Ya!! Kauu! Kenapa kau tiba-tiba menggangguku, hah??!! Siapa kau? Kau orang yang disuruh orangtuaku untuk mengikutiku, hah??!! Pergi sana!!”, teriak cewek itu, marah, kesabarannya sudah habis.

Cowok itu hanya mendecak pelan, “Kalau kau tidak mau ya sudah…”, kata cowok itu sambil beranjak dan membawa botol soju itu dengannya.

Cewek yang sudah mabuk dan marah itu akhirnya hanya berdecak sebal sambil menjawab, “Shin Hagi. Dan kembalikan botolku”, katanya.

“Nugu?”

“Shin Hagi!! Sekarang kembalikan botolku dan pergi sana, aku tidak butuh traktiranmu atau apa…”, teriak cewek itu dengan suara parau. Dia merasa sudah agak pusing, tubuhnya sudah agak limbung, dan dia terduduk sambil memegangi kepalanya dan meringis menahan sakit.

“Ugh…”, keluh cewek itu.

Cowok itu datang mendekat dan duduk di sebelah cewek itu, “Kau ini, sudah diam saja dan minum dengan tenang kenapa sieh? Ini…”, kata cowok itu, menuangkan soju dan memberikan gelas kecil pada cewek itu.

Cewek itu menatapnya dengan pandangan yang sudah agak samar-samar, tetapi dia menenggak juga soju itu dengan cepat. 

“Nah..begitu… ayo aku traktir..”, katanya, sambil tersenyum senang.
“Kau cerewet”, kata cewek itu, menuang lagi sojunya.
“Kau benar-benar banyak minum yah??”, kata cowok itu, sambil menggerakkan tangan memesan soju lagi.

“Hah... dasar aneh, cerewet”, kata cewek itu, menuang kembali sojunya.

“Kau ini sepertinya benar-benar sedang susah yah?? hanya bisa bilang cerewet”, kata cowok itu, tanpa berhenti memperhatikan cewek didepannya yang lebih memilih sibuk minum dari botol pesanannya.

Cewek itu sebenarnya sudah tidak peduli cowok itu bilang apalagi. Dia sudah benar-benar mengubur dirinya didalam tenggakan soju, soju, soju dan soju. Perasaannya marah, campur aduk, sebal dan sangat marah tapi putus asa dan tidak tahu harus bagaimana lagi menanggapi masalahnya. Ingatan kaburnya kembali pada kejadian siang tadi sehabis dia pulang kerja dan kejadian tidak menyenangkan itu membuatnya sebal.

“Huuhh! Sudah menyuruhku bekerja siang malam, sekarang mereka bertindak sesukanya padaku, menyuruhku ini itu, hahhh..sungguh orangtua tidak tahu diri!!”, teriak cewek itu sambil menuang soju, dan dituangan kali ini, dia merasakan tekanan luar biasa di kepalanya, dan pandangannya makin kabur, kepalanya makin berat. Tapi dia tidak berhenti. Kalau minum soju bisa membunuhnya, dia akan membunuh diri sendiri sekarang dengan soju.

Cowok didepannya hanya diam, sambil terus minum juga. Sebenarnya dia juga sudah tidak peduli pada cewek didepannya, tapi kepalanya yang masih agak sadar dan panggilan hatinya menyuruhnya untuk focus pada cewek didepannya. Entah ada apanya atau kenapa, tapi melihat cewek manis itu membuatnya menjadi tergelitik untuk mendekatinya, dia bahkan tidak tahu apa alasannya.

“Apa masalahmu??”, tanya cowok itu, suaranya parau.
“Kau…kau tidak perlu ta..tahu…”, kata cewek itu sambil menunjuk ke wajah cowok itu.
“Hah, jangan sekali-sekali menunjuk-nunjuk wajahku…”

“Kau yang tanya, dasar babo…..”, cewek itu lemas, kepalanya tertunduk, tapi kemudian dia langsung mengangkat wajahnya lagi, memandang cowok itu yang terus menenggak soju, dan dia tersenyum, puas.

“Hey, cowok cerewet, kau juga ada masalah kan…hahaaha..apa masalahmu???”, tanya cewek itu, sambil tertawa.
“Kau, tidak perlu tahu”, kata cowok itu, sambil memandang cewek itu dengan sebal.
Cewek itu akhirnya tertawa kecil lalu melontarkan kata-kata tidak jelas dan kembali minum soju didepannya. 

“Siapa namamu??”, tanya cewek itu.
“Bukan urusanmu….dan..kau..tidak perlu tahu….”, katanya, sambil menenggak soju dan menunjuk ke wajah cewek itu.

“Hah… menyebalkan…”, katanya.

Cowok itu hanya terdiam, pandangannya sebal kearah gelas kecil didepannya. Dia juga jauh berfikir, banyak hal menyebalkan yang terjadi, banyak hal yang ingin dia hilangkan dari fikirannya, tapi dia tidak bisa. Kalau soju membuat semua masalahnya hilang dan semua kembali normal, malam ini dia akan minum soju sebanyak-banyaknya sampai semuanya kembali ketempatnya semula.

Akhirnya mereka minum bersama dalam diam, tidak saling bicara, tapi juga tidak berhenti saling memperhatikan. Mereka terus memesan soju satu botol demi satu botol, mereka menuang ke gelas masing-masing, sampai larut malam dan sampai ahjumma pemilik warung melempar mereka keluar warung karena ketika mau menghubungi orang yang kenal dengan tamunya yang sudah mabuk berat itu, handphone mereka berdua mati.

“Yaaaa…ahjummaa…kenapa kau…kau melempar kami…..”, teriak cowok itu sambil berusaha berdiri, ketika dia didorong keluar dengan kasar, bersama cewek itu tentunya.

“Ahh….. Ahjumma….”, keluh cewek itu sambil berusaha berdiri, tapi terjatuh lagi. Cowok itu membantunya berdiri dan mereka saling memegang pundak agar mereka bisa berjalan dengan baik, walau memang masih sempoyongan.

“Ahjumma jahaaat~~~ jahat~~ jahat~ kamu jahat…jahat…. nyahahhaaa”, mereka berdua menyanyikan lagu cheribel [??] dengan riang dan keras dan bahagia.

Mereka berdua berjalan bersama sambil sempoyongan. Berjalan tanpa arah, awalnya, sampai si cewek cukup sadar untuk mengingat dimana apartementnya.

“Ahh… Sungguh..Apartemenku kenapa harus sejauh ini…uugghh…”, katanya, sambil mengeluh capek dan memegangi kakinya.

Cowok disebelahnya hanya diam sambil masih terus berjalan gontai. Cewek itu memperhatikan cowok disebelahnya. 

“Astaga..orang ini tertidur sambil berjalan? Apa-apaan ini…dasar cowok tidak tahu aturan, masa dia yang bersan…uugghh….”, cewek itu merasa gejolak diperutnya.

“Uugghh…shit..”, cewek itu mengumpat sambil memegangi perutnya erat-erat. Sepertinya dia sebentar lagi muntah. Dan dia tidak ingin muntah dijalan, bau dan mengotori bajunya yang kebetulan, ini baju baru demi acara yang direncanakan orangtuanya siang tadi.

Yang ada diotaknya sekarang hanya pulang ke apartement dan segera tidur, dan membuang badan cowok yang berat disebelahnya ini dengan segera.

Akhirnya, setelah jalan melelahkan, kepala yang sudah berat ditambah dengan cowok disebelahnya yang sudah setengah tertidur walau masih bisa menyeret kakinya itu, mereka berdua sampai di apartement cewek itu.

Cewek itu mengambil kunci dari tasnya dan akhirnya mereka masuk. Sampai didalam, cewek itu melempar cowok itu begitu saja di lantai. Dan cowok itu tidak protes sama sekali, alias sudah tertidur dengan tenang di lantai kayu yang dingin itu.

“Ck! Aku yang cewek kau suruh membopongmu yang berat? Dasar cowok kurang ajar..ckckck..sial..”, tapi cewek itu tidak mengumpat terlalu lama, karena dia sendiri langsung melempar tubuhnya ke atas ranjang yang empuk dan hangat.


-------------------------------


Sinar matahari menghujani kamar apartement yang jendelanya tidak tertutup itu, tepat mengenai wajah cewek manis yang sedang tertidur pulas di kasur itu. Cewek manis itu membuka matanya perlahan, badannya terasa panas dan gerah. Dia menyeka wajahnya, “Auuh..wajahku berkeringat sampai seperti ini…”, cewek itu mendesah pelan. Dia terduduk pelan dan sadar kalau dia tidur dengan baju lengkap.
“Ah..pantas saja aku sampai keringatan..jaket tebal ini tebal sekali lagi.. ugh..”, tiba-tibadia menutup mulut dengan telapak tangannya. Dia merasa perutnya bergejolak. aahh! rasanya mau muntah. cih! pasti gara-gara mabuk semalem! 

- Hagi POV-

“Uugghhh..”, kataku sambil memegangi perut saking sakitnya. Gara-gara aku jarang sekali minum-minum sampai mabuk-mabukan, sekarang begini jadinya. Ugh…

“I need bathroom….”, ketika dia beranjak dari kasur, kakinya tiba-tiba menyentuh sesuatu. Dia mengerutkan kening, dan dia menoleh ke sebelahnya, sebuah gundukan [??] besar berselimut di sebelahku.

Aku menelan ludah. Aku tidak membawa pulang barang aneh kan? Atau sesuatu..atau!!

Aku menepuk jidat! “Astaga!!!! aku..aku kan…”, aku tiba-tiba teringat dengan cowok ganteng, ehem, ganteng sieh dimataku yang sedang mabuk, dengan poni depan yang manis, jaket merah yang membuatnya makin tampan, dan…. glup! Wait, aku.. aku sepertinya mengajak…mengajak...

Aku buru-buru membuka selimut tebal itu dan…mau tak mau tersenyum.

Wajah tampan seperti malaikat yang sedang tertidur pulas bersinar dibawah cahaya matahari, rambut yang lembut berkilau, wajah yang mulus kecoklatan, bibir yang mengatup seksi, sampai…

“uuunnggg….”, cowok itu mengeluarkan suara.

Dan aku makin bingung, ottokhae? Aduh, harusnya aku segera bergegas ke kamar mandi saja dari tadi. Ketika aku baru mau beranjak, tiba-tiba....

“OMG!!! JAM BERAPA INI????”, teriak orang disebelahku. Aku yang kaget sampai tersentak memandangnya dengan horror dan bingung.

Dia memandangku bingung, kemudian matanya membulat kaget, kemudian badannya bergerak dengan kikuk, dan tiba-tiba…

“Uugghhh!!!”, dia tiba-tiba menutup mulutnya dan..

Aku menggigit bibir, dia mau muntah!! Andweeee!!

Aku bergegas beranjak dari kasur, namun pergelangan tanganku ditahan oleh cowok itu dan, “Dimana kamar mandinya?? Aku..uggh..tidak tahan lagi..”, katanya, dengan muka pucat.

Aku memandangnya kaget, dia..kenapa sangat santai, dan..
“Hagi-shii, plis…”, katanya, sambil memandangku dengan mata besarnya yang bulat itu.
“Heh? Kau..”
“Dimana?”
“Disana….”, jawabku, langsung dengan muka polos dan dia langsung bergegas ke kamar mandi. Aku hanya beranjak pelan dari tempat tidur, dan menunggu didekat kamar mandi.

Setelah dia keluar kamar mandi, dia dengan senyum cerah dan sebuah handuk kecil berwarna pink mengalung di lehernya. Aku melihatnya dengan sedikit amaze, orang ini santai sekali….

“Terimakasih sudah menampungku yang mabuk berat dan mengganggumu semalam, dan maaf aku sudah merepotkan..”, katanya sambil tersenyum.

“Ah, aku juga..”

“Oiya, sudah jam segini, aku sudah harus berangkat kerja. Terimakasih sudah menampungku, dan, terimakasih sudah membopongku semalam, bye Hagi-ah..Kalau kita beruntung, kita akan ketemu lagi”, kata cowok itu, memotong perkataanku dan langsung beranjak pergi, melempar handuk pink ke arah kasurku, dan keluar pintu dan.. wuuusshh~~ menghilang seperti angin. Dan.. aku hanya menganga tidak percaya melihat pintu tertutup begitu saja.

“WHAT?? WHAT THE….”, aku sampai tidak bisa berkata-kata. OMG!! Aisshh!! Aku bergegas lari ke pintu, membuka pintu dan melihat ke arah lorong apartement, aku melihat dia menuruni tangga apartement dengan agak terburu-buru.

Aku sudah hampir mengejarnya, sampai, aku langsung berhenti tiba-tiba. Aku langsung mengecek badanku. Badanku tidak sakit-sakit kecuali aku yang ingin muntah dari tadi, pinggangku tidak sakit, rrr, yang jelas, sepertinya bajuku tidak terbuka sedikitpun dan… aahh! Its safe! nyahahaha.. Its okay, everything okay!! hahahaha..

Aku langsung menutup pintu sambil tersenyum, aku teringat handphone yang mati, aku langsung menge-charge nya dan melenggang ke kamar mandi dengan tenang, aku harus berangkat kerja.

30 menit kemudian, aku keluar dengan badan segar bugar senang bahagia dan segera bergegas bersiap-siap ke kantor, menyiapkan segala document, memasukkan handphone dan segala macam peralatanku.

Aku naik bus umum ke tempat kerja yang cukup jauh dari apartement. Aku kemudian menyalakan handphone yang mati, seperti biasa, mendengarkan lagu klasik kesukaanku dipagi hari, dan….

“Eh??”, sebuah gambar cheesecake terpampang menggiurkan dilayar bening itu. Cheesecake?? Kapan aku pasang gambar cheesecake?? Tiba-tiba upcoming alert yang banyak masuk, sms pending, panggilan tidak terjawab, dan saking herannya kenapa begitu banyak pemberitahuan? Tumben…

Belum habis aku kaget, sebuah incoming call masuk, dan foto seorang cewek cantik berambut coklat langsung terpampang dilayar, “Nugu??? Siapa ini??”, aku kaget, tapi langsung aku angkat juga.

“A…”

“Jung Daehyun, where are you???!! Aku semaleman udah nyari kemana-mana, nelpon kemana-mana, temen-temenmu ga tahu kamu pergi kemana, sama siapa dan diamana. Sampai sekretarismu ajah ga tau kamu dimana! Semua orang panik, semua orang nyari kamu sampe keseluruh penjuru Seoul!! Kenapa kamu pergi gitu ajah setelah acara pestanya, haah???? Ya!! Jung Daehyun, kamu kenapa ga jawab!!!!”, bentak suara seorang cewek diseberang sana.

Aku hanya mengedip-ngedipkan mata, mencerna sambil masih kaget dan bingung. Wait, wait, wait!!! Tunggu! Tungguu…. Jangan-jangan, ini hape….hape cowok itu?!! Jung Daehyun? nama cowok itu!!

Aku mendekatkan telinga ke hape dan mendengar cewek itu nyerocos sampai berbusa, mungkin, dan akhirnya dia terdiam, sunyi, dan beberapa lama, dia berkata, 

“Daehyun-ah…”, katanya, manja.
“Uhmm..mianeyo, this is not Jung Daehyun….”

“Siapa kamu??!!”, tanyanya, tajam dan ketus, dan memotong ucapanku.

“Aku..”
“Siapa kamu?! Kamu siapanya Daehyun?? Kenapa hapenya bisa ada di kamu dan kenapa kamu yang angkat? Mana Daehyun??”, tanyanya, tajam. Dia memotong ucapanku lagi! Ugh…

“Uhm..dia sudah berangkat kerja dan dia…”

“What? Apa maksudmu?”

“Aku mau bilang…”

“Kau, jangan macam-macam dengan Daehyun, dia itu tunanganku!”, kata cewek diseberang dengan nada ketus yang menyebalkan. OMG! dia memotong ucapanku lagi!! uuggh..menyebalkan!! Aku mencoba menjelaskan dan dia memotong ucapanku sampai begitu!! Ugh, mengesalkan...

“Semalam dia tidur ditempatku, dia sudah berangkat kerja sekarang, jadi kau tenang saja, tidak usah khawatir”, kataku, ketus dan langsung menutup telepon.

Hahh… what a weird morning. Pertama, Jung Daehyun, lalu perempuan ini.. Ugh, I hope the rest of the day isn’t bad like this morning….but, I have bad feeling about this...


-tbc-